Pengamen Tanpa 4 Jari Jadi Bos Gitar, Omzet Rp 300 Juta

Tonny Mahardika-facebook/tonny.RMG

Setiap orang yang mau berjuang, tidak akan sulit untuk mendapatkan kesuksesannya. Apapun kondisi dan kekurangan yang dialami pun tidak akan menjadi halangan.
Seperti Tonny Mahardika, pria 35 tahun asal Bogor ini memulai perjuangannya sebagai bos toko gitar dari seorang pengamen jalanan. Kondisi fisik Tonny juga tak sempurna, dia tak lagi memiliki 4 jari jemari pada tangan kirinya.

Sudah belasan tahun Tonny kehilangan 4 ruas jari jemarinya, namun hal itu justru menjadi kilas balik hidupnya. Perjalanan panjang dimulai sejak dirinya kehilangan bagian tubuhnya itu.

“Awalnya saya kerja di pabrik sejak 2004, suatu waktu di 2006 saya kecelakaan kerja, putus jari saya empat ini karena mesin,” kata Tonny

Dua tahun setelah kecelakaan itu, pabrik tempat Tonny bekerja melakukan PHK besar-besaran, Tonny pun berhenti bekerja sebagai pegawai pabrik. Sejak saat itu, Tonny pun memilih menjadi pengamen untuk menyambung hidup.

Bukan tanpa perjuangan, Tonny memilih menjadi pengamen pun sambil mencari pekerjaan. Namun kondisi fisiknya nampaknya menyulitkan untuknya mendapat pekerjaan.

“Jadi pengangguran nih, saya iseng lah ngamen tuh buat makan lah, sambil nyari kerja tapi. Itu rasanya susah banget dapat kerja apalagi ngeliat kondisi saya begini kan,” ujar Tonny sambil menunjuk jarinya yang hilang.

Tiba lah di suatu hari dia merasa mendapatkan peringatan untuk tidak lagi jadi pengamen. Di hari itu dia mendapati sebuah selebaran dari dealer motor, di dalamnya bertuliskan promo untuk kredit motor dengan uang muka cuma Rp 500 ribu.

Dari situ dia langsung merasa nampaknya angkutan umum yang menjadi sasarannya untuk ngamen akan berkurang seiring dengan bertambahnya kepemilikan motor yang murah meriah. Tonny pun berpikir mencari cara untuk mendapatkan pekerjaan lain.

“Nah di situ saya pikir ini banyak orang bakal punya motor nih, angkutan umum pasti bakal kurang, tempat ngamen saya hilang dong. Nggak bisa jadi pengamen lagi kalau gini,” ungkap Tonny.

“Awalnya saya kerja di pabrik sejak 2004, suatu waktu di 2006 saya kecelakaan kerja, putus jari saya empat ini karena mesin”

Tonny Mahardika

Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi sales sparepart motor. Profesi baru ini dia geluti di akhir tahun 2012, dia mengaku cukup sukses dalam menjalani usahanya kali ini.

Dia bercerita dalam waktu empat bulan saja dirinya sudah mampu membeli motor sendiri. Motor baru, cash pula. Dia juga mengatakan aset yang dijualnya pun sudah pernah mencapai Rp 100 juta.

“Saya bilang cukup sukses di situ, saya jalan 2012 akhir, empat bulan kemudian saya bisa beli motor baru, cash lho itu, di awal 2013. Aset saya juga sudah hampir Rp 100 juta,” kata Tonny.

Namun, kesuksesan itu bagaikan hilang dalam sekejap setelah di sekitar tahun 2015 Tonny menghadapi serangan barang impor dan perang harga. Masyarakat saat itu beralih ke produk impor yang lebih murah, barang milik Tonny tak lagi laku.

Padahal suatu ketika Tonny baru saja membelanjakan uangnya hingga puluhan juta untuk membeli stok barang baru. Saat dia mau mengirimkannya ke toko langganan tidak ada yang mau menerima.

Pada saat itu Tonny sudah sangat optimis barangnya akan laku, sehingga hampir seluruh uangnya dibelanjakan membeli stok dan hanya menyisakan Rp 1,2 juta di dalam sakunya. Itu pun Rp 500 ribunya digunakan untuk membayar kost. Otomatis sisa uang di tangannya cuma Rp 700 ribu.

“Stress dah saya di situ. Barang kita nggak laku, nggak kena harganya. Terus uang saya waktu itu juga mentok Rp 1,2 juta, bayar kosan Rp 500 ribu sendiri, sisa Rp 700 ribu lah di situ,” ujar Tonny.

Singkat cerita, Tonny pun menghibur diri dengan mengunjungi warnet. Hari itu, Tonny iseng browsing mencari informasi bisnis yang bisa digelutinya. Tak lama kemudian dia menemukan beberapa platform e-commerce. Saat itu platform e-commerce tak sebanyak sekarang, bahkan bisa dibilang masih tergolong barang baru.

Maka dari itu Tonny mulai mempelajarinya, membuat akun dan belajar berbagai sistem penjualannya. Namun, dia mengaku saat itu tak tahu mau menjual apa, sementara itu sparepart motor miliknya pun tak cocok dijual eceran secara online.

“Saya bilang ini apaan ya pengen tahu aja, oh ini toko online, punya usaha nggak mesti punya toko aja bisa, wah canggih nih. Saya coba aja buat akun di situ, gaptek kan, belajar aja dulu lah saya soal platform itu, mikir produk yang mau dijual aja belum kepikiran itu,” kisah Tonny.

Namun pada suatu siang saat dirinya sedang iseng bermain gitar ide usaha pun muncul. Dia berpikir kenapa dirinya tidak menjual gitar saja, apalagi dirinya pun paham seluk beluk gitar.

“Waktu itu lagi mengenang masa ngamen lah, terus kepikiran deh, kenapa gue nggak jualan gitar aja nih? Kita kan tahu gitar bagus gimana, jelek gimana, belinya di mana, harganya berapa,” ujar Tonny.

Dengan sisa uang saku Rp 700 ribu yang dimilikinya tanpa pikir panjang dia langsung menuju agen penjual alat musik. Dengan uang yang dimilikinya saat itu dia mengaku mendapatkan 3 buah gitar.

Gitar-gitar itu langsung Tonny pasarkan di platform toko online. Laris manis, gitar-gitar yang dia jual pun langsung terjual. Sejak saat itu dia pun langsung yakin usaha ini adalah jalannya untuk bisa bertahan dan maju ke depan.

“Sampai suatu hari saya punya sekitar 36 gitar. Saya dapat omzet lebih dari Rp 6 juta, saya langsung bilang wah ini dia jalannya. Dalam dua minggu usai jual online itu, berdirilah toko benerannya Rock Musik Kedoya,” cerita Tonny.

Perjuangan baru pun ditempuh Tonny dalam membesarkan usahanya hingga menjadi sekarang. Sejak 2015 dia bercerita dirinya secara bertahap naik level, mulai dari jadi reseller, naik menjadi agen, kemudian distributor, dan kini dia berani memproduksi produk gitarnya sendiri.

Dia bercerita dirinya bekerja sama dengan beberapa industri rumahan di daerah dalam membuat gitar. Tonny yang mendesain gitar, bentuk hingga materialnya, industri rumahan yang menggarapnya.

“Ya bisa dibilang saya mulai dari reseller, kemudian jadi agen, lalu jadi distributor. Kami lemparin barang-barang, alat-alat musik, dan sparepart ke daerah,” kisah Tonny.

“Sampai akhirnya terwujud 2020 kemarin, sekitar beberapa hari sebelum lebaran kita launching produk kita sendiri, dengan bendera Rock Music Group alias RMG,” pungkasnya.

Tonny mengatakan kini dia sudah membuat dan menjual 23 tipe gitar. Mulai dari ukulele, guitarlele, guitardame, gitar jumbo, bass akustik, dan lain sebagainya. Dia pun mengatakan dirinya juga mengajak beberapa musisi bekerja sama membuat gitar-gitar signature alias edisi khusus.

“Saya rangkul juga beberapa artis, om Toto Tewel, Tipe X, Ale Funky. Jadi kita tawarin mau dibikinin signature-nya nggak? Nah dari situ, jadi semacam edisi khusus gitu lah. Ini ngebuktiin juga gitar kita sudah teruji sama musisi langsung kualitasnya,” papar Tonny.

Berawal dari menjadi pengamen tanpa 4 jari jemari kini Tonny telah bertransformasi menjadi bos gitar. Dia mengaku selama ini omzetnya bisa mencapai Rp 300 juta per bulan dari usaha toko gitarnya ini, meski saat ini sedang anjlok karena pandemi.

“Kalau sekarang tentative ya, kalau sebelumnya omzet itu semua ya bisa Rp 300 jutaan sebulan. Kalau profit bersih 30%-an dari situ lah,” kata Tonny.

Kini Tonny mengaku cukup senang dengan jalannya usaha gitar miliknya. Dia mengungkapkan rencana ke depannya adalah membawa gitar produknya bisa didistribusikan ke luar negeri. Dia sudah menargetkan 5 negara, mulai dari Australia, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, dan China.

“Dari Australia ini dia sudah terima sampel dari kita, sudah oke, tinggal tunggu lockdown-lockdown saja selesai di sana,” kata Tonny.